
Hanz E. Pramana, Pontianak
Wah, ramai juga reaksi orang-orang tentang ucapan Pak Prabowo mengenai profesi wartawan. Ucapan itu dikuip banyak media sekitar Agustus 2017. Saya sendiri yakin, Pak Prabowo tidak serius 100 persen ketika mengucapkan: "Gaji kalian kan kecil, kelihatan dari muka kalian, jarang ke mall."
Pasti dalam kalimat itu, dia sebenarnya ingin bercanda. Mengenai gaji wartawan kecil, itu sudah terjadi sejak zaman Adam dan Hawa. Jadi, bukan sesuatu yang istimewa.
Soal jarang ke mall, ya pasti dia bercanda dong. Juga soal "kelihatan dari muka kalian…".
Saya pernah shock ketika pada suatu kesempatan diajak teman berbincang dengan seseorang. Penampilannya amat biasa, pakai tas pinggang, jaket yang terkesan agak kumal, wajahnya juga seperti wajah orang kebanyakan.
Di tengah perbincangan itu, baru saya menyadari, figur ini adalah vice president sebuah perusahaan nasional yang produk-produknya sudah populer sampai ke pelosok negeri! Jadi, wajahnya yang seperti orang kebayakan, berbanding terbalik dengan jumlah uangnya!
Lebih sepuluh tahun lalu, saya dan beberapa rekan wartawan meliput suatu kegiatan di Kantor Gubernur. Seperti biasa, jadwal kegiatan molor, maka kami duduk menunggu.
Seorang bapak mengajak kami berbicang: "Bang, kayaknya jadi wartawan enak ya, bisa jalan-jalan, bisa ketemu pejabat."
Langsung dijawab rekan saya yang lebih senior dengan ekspresi kesal: "Ah, jadi wartawan itu ndak enak, Pak!"
Sayang, perbincangan segera terhenti. Mungkin rekan saya itu sedang kehilangan mood. Dan bapak tadi pun mundur teratur.
Baiklah. Kalau pandangan saya sendiri? Mungkin benar, jadi wartawan itu tidak enak. Anda akan sering mengalami pelecehan, bahkan mungkin dari orang terdekat sekalipun.
"Inilah wartawan ini, nulis sembarangan!"
"Ah, namanya juga wartawan, suka nyari kesalahan orang."
"Ngapa ada berita kayak gini, cari wartawannya, beri pelajaran!"
"Hati-hati ngomong, takut ada wartawan…"
"Kau jangan macam-macam, kupanggil wartawan nanti, masuk koran kau!"
Di mata kebanyakan orang, profesi wartawan memang terhina. Mengejar-ngejar orang, kumal, tidak keren.
Celaka 12 lagi, kebanyakan orang tidak membedakan antara wartawan benaran dengan wartawan abal-abal. Pokoknya kalau menenteng kamera, dianggap wartawan, tak perlu tahu dari media mana, atau punya media atau tidak.
Tapi, apakah benar masyarakat kita tak membutuhkan wartawan? Ujicobanya terlalu mahal, hanya untuk menjawab pertanyaan itu. Misalnya, selama setahun, koran berhenti terbit, TV tidak siaran, radio off, situs online shutdown, apa yang terjadi? Hoax akan meraja lela?
Saya sendiri sering berpesan kepada generasi muda, yang biasanya mengikuti pelatihan singkat yang saya berikan. Saya katakan, kalian sebaiknya pandai menulis, meski kelak tak harus jadi wartawan.
Jadilah dokter yang pandai menulis, guru yang pandai menulis, ASN yang pandai menulis, bahkan pebisnis yang jago menulis.
"Mengapa aku tak boleh jadi wartawan, Papa?"
"Jadi wartawan itu tidak enak, Sayang."
"Tapi papa selalu mengajari aku menulis. Habis liburan, selalu disuruh nulis di diary. Habis ikut lomba, atau habis menghadiri pesta."
"Tidak apa-apa, supaya kalau kamu sudah dewasa nanti, tulisan itu bisa kamu baca kembali."
"Emang gaji wartawan berapa, Pa?"
"Bisa kamu tebak dari uang jajan yang Papa berikan setiap pagi."
"Hehe, tiap pagi Papa hanya kasih aku Rp 2.000."
"Bisa kamu rasakan juga, kita ke mana-mana naik apa."
"Naik sepeda motor, Pa."
"Oke, sudah. Tetap belajar menulis, habis itu tunjukan ke Papa biar dibaca."
Soal muka, wajah, ekspresi wartawan, pasti beda-beda. Ada yang tetap tampan dan berseri-seri, meski isi ATM sekarat. Ada juga yang kusut, walau deposito sudah menggunung.
Saya bagikan link berikut ini: https://www.vice.com/id_id/article/xwwg5a/menggeluti-profesi-jurnalis-tak-bagus-bagi-kesehatan-mental?utm_source=viceind
Tulisan tentang gangguan mental yang bisa diidap wartawan. Ups!