Hanz E. Pramana, Pontianak
Ketika saya masih bekerja sebagai wartawan Tribun Pontianak, secara periodik kemampuan olah bahasa kami selalu disegarkan dengan pelatihan-pelatihan tambahan. Seorang mentor dari kantor Jakarta biasanya diutus untuk keperluan ini.
Ada satu
pertemuan yang sangat saya ingat. Sebelum memulai sesi, sang mentor menayangkan
sebuah slide. Di sana tertulis:
“Yang membawa HP harap dimatikan.”
Beberapa peserta tampak kasak-kusuk. Merogoh kantong, mencari perangkat itu dan mematikannya. Sebagian lain hanya diam. Bisa jadi, mereka telah lebih dahulu mematikan HP.
Sang mentor bertanya: “Lho, kenapa? Kenapa kalian kasak-kusuk”.
Seorang peserta menjawab: “Mematikan HP, Pak.”
Ditanya lagi: “Kenapa?”
Dijawab: “Sesuai tertulis di situ” (menunjuk slide).
Sang mentor tersenyum. Lalu dia berkata: “Kira-kira, apakah kalimat yang saya tampilkan di sini sudah benar?”
Beberapa jenak kemudian, barulah kami para wartawan yang sudah menulis entah berapa item berita dan dibaca oleh pembaca, menyadari, kalimat itu salah.
“Yang membawa HP harap dimatikan”, kalau menurut kalimat ini, siapa yang seharusnya dimatikan? HP atau orang yang membawa HP?
Kami semua tersenyum menyadari kekeliruan yang sudah sangat kronis itu. Saking lancarnya menulis, hal-hal seperti itu sudah dianggap biasa. Tidak lagi dirasa sebagai suatu kesalahan.
Jika mengikuti struktur kalimat yang berlaku, semestinya tertulis begini:
“Sebelum memulai kegiatan, HP harap dimatikan.
Atau pembaca sekalian bisa menggantinya dengan kalimat yang lebih bagus? Silakan.
Masih dari sang mentor, contoh kalimat yang sepintas sudah benar tetapi sesungguhnya keliru, ditampilkan seperti ini:
“Yang membawa sepeda, harap dikunci.” Biasanya tulisan ini dipasang di garasi sepeda di sekolah-sekolah. Jadi, sebenarnya, siapa yang harus dikunci? Sepeda, atau orang yang membawa sepeda? Hehehe.
“Yang menggunakan WC harap disiram.” Wah, bisa basah kuyup dong.
Pengetahuan ini saya warisi setelah saya mengundurkan diri dari media itu, dan diundang beberapa pihak untuk memberikan pelatihan menulis. Sebelum sesi dimulai, saya menampilkan kalimat-kalimat itu di layar.
Biasanya, kalimat pertama yang ditampilkan adalah “Yang membawa HP harap dimatikan.”
Kemudian saya mengamati reaksi peserta pelatihan. Kebanyakan mereka sibuk mematikan perangkat itu. Ada yang tinggal menggapainya di meja. Ada yang merogoh saku, ada yang mencarinya di dalam tas.
Cara ini rupanya sangat mengesankan peserta. Ketika mereka diberitahu kemudian. Ketika mereka telah mematikan perangkat itu.
Kalau besok lusa berjumpa, sambil bercanda tentu saja, ada saja yang iseng berkata: “Bang, yang dimatikan HP-nya atau orangnya?”
Hehe, jadi perkara kebahasaan sesungguhnya tidak selalu berkaitan dengan hal-hal rumit yang disangka banyak orang. Aspek-aspek kebahasaan, jika kita jeli, banyak juga yang menghadirkan kesan serius tapi santai. (*)