Hanz E. Pramana, Pontianak
KERAP mengabaikan hal-hal kecil, bisa membuat harimu menjadi tidak enjoy. Ini kisah tentang prahara ikat pinggang. Tidak horor amat sih sebenarnya.
Ikat pinggang--bagi saya--merupakan perangkat sehari-hari yang
tidak bisa terpisahkan. Bukan sekadar alat penahan celana supaya terasa pas di
pinggang. Tetapi sudah menjadi kebiasaan yang akan sangat terasa jika benda ini
tiada.
Orang yang sadar mode mungkin menjadikan ikat pinggang sebagai bagian dari
aksesoris pendukung penampilan. Tapi tidak bagiku. Ikat pinggang bagiku
benar-benar kebutuhan, bukan "modal" untuk tampil keren. Lagipula aku
tidak pernah pusing dengan seperti apa model ikat pinggang yang akan dibeli.
Suatu hari menjelang akhir tahun 2012, aku diundang untuk sebuah kegiatan di
Jakarta. Usai check in di hotel yang tak jauh dari lokasi acara, aku memutuskan
untuk main-main ke rumah teman. Letaknya cukup jauh sehingga tidak memungkinkan
untuk tak menginap.
Seorang teman lain menjemput, dan berangkatlah aku ke kediaman teman itu. Tidak
ada agenda yang terlalu spesial, selain ngobrol ke sana ke mari sekadar mengisi
waktu. Besok pagi aku berangkat ke lokasi kegiatan dengan numpang mobil sang
teman.
Pagi harinya, baru aku sadari ikat pinggangku tertinggal di hotel. Tidak
mungkin hendak kembali ke hotel yang letaknya jauh, sekadar untuk mengambil
benda ini. Tak terpikir juga untuk membeli yang baru, karena ikat pinggang
bukanlah barang yang sering gonta-ganti.
Sering sebuah ikat pinggang bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama, bahkan
sangat lama. Seingatku, ikat pinggang masa aku SMA dulu, masih terus kupakai
hingga masa perkuliahan.
Begitu menyadari ikat pinggang tertinggal di hotel, kutanyakan ke tuan rumah
tempatku menginap, kalau-kalau dia punya ikat pinggang ekstra yang tidak
dipakai. Beberapa saat temanku itu mencari-cari. Nihil.
"Pakai tali rafia saja," ujarnya. Bercanda, tentu saja. Nah loe :p
Sebenarnya bukan permasalahan besar sangat jika pagi ini aku tidak mengenakan
benda itu di pinggang celanaku. Cuma rasanya ada hal yang kurang. Celanaku pun
tak bakal melorot tanpa benda itu. Tapi ya...gimana ya...namanya juga sudah
biasa.
Kejadian ikat pinggang yang tertinggal di hotelpun berlalu dimakan waktu. Tak
ada sesuatu yang terlalu berpengaruh akibat "prahara" itu. Istilah
prahara sebenarnya terlalu lebay. Tapi boleh kan, sesekali lebay, haha!
Nah, awal Maret 2014, rupanya prahara itu terulang kembali. Aku pergi ke sebuah
kota berjarak sekitar 200 kilometer dari rumahku, atau sekitar 4 jam
mengendarai sepeda motor. Di tengah perjalanan, barulah menyadari prahara ini
terulang: ikat pinggangku tertinggal di rumah! Akai!
Waktu sudah mulai malam, malas juga rasanya singgah di toko sekadar untuk
membeli ikat pinggang. Lagi pula perjalananku masih membutuhkan jarak tempuh
sekitar 2 jam lagi. Biarlah besok pagi sebelum jam kantor, aku berkeliling di
kota itu untuk mencari barang ini.
Dan...esok paginya sekitar jam 07.00 WIB aku berkeliling pasar. Kali ini ikat
pinggang benar-benar kubutuhkan karena harus berpenampilan relatif rapi
ketimbang biasanya. Celana berbahan kain yang kukenakan memang perlu bantuan
penopang. Bahannya yang lembut membuat mudah melorot (nah loe!).
Hampir 40 menit berkeliling di kota yang belum kuhafal benar denahnya (maklum
masih baru). Kebanyakan toko-toko tutup, terutama toko pakaian! Yang sudah pada
buka baru lapak-lapak penjual sayuran dan so pasti mereka tidak menjual ikat
pinggang!
"Prahara" menampakkan tanda-tanda berakhir, ketika di sebuah emperan
kulihat seorang bapak tua mulai menata dagangan di lapaknya. Dari jauh sudah
kelihatan benda menjuntai di gantungan. Yay, here we go! Ikat pingganglah itu!
"Berapa satu, Pak?"
"Dua puluh lima ribu."
"Ya sudah, dua puluh ribu saja ya."
Tanpa berdebat, si bapak setuju. Dua kali ikat pinggang itu harus dipotong,
karena kepanjangan supaya sesuai dengan lingkar pinggangku. Mantap, pas sudah!
Lega! Setelah membayar, akupun meluncur dengan celana yang kokoh pada
posisinya. Hidup ikat pinggang! (*)

