-->

Kado Istimewa Puisi Mistik bagi Cucunda

[Foto: Ilustrasi]

Judul Buku  : Kumpulan Puisi PENGKOAK
Penulis         : DG Kumarsana
Penerbit       : Pustaka Ekspresi, Tabanan - Bali
Tahun terbit : November 2020
ISBN             : 978-6237606-41-3
Tebal buku  : 91 halaman

Buku kumpulan puisi bertajuk “Pengkoak” ini ditulis oleh penyair kelahiran Denpasar, 13 April 1965. Beliau dikenal sebagai DG Kumarsana. Sastrawan kelahiran Denpasar, April 1965 ini, telah melahirkan berbagai genre karya sastra: cerpen, dovel, dan puisi. Tidak sedikit pula yang telah mampir di media cetak di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kala cucunda, Dewa Gede Satria Agung Rawindra, merayakan hari lahir, beliau memberi kado istimewa, kumpulan puisi Pengkoak. Sudah barang tentu, perlu empat lima tahun lagi - bahkan mungkin lebih - cucunda akan menyelami baris-baris puisi tersebut.

Bli Kum, begitu saya memanggil beliau, kini tinggak di Lombok Barat. Setelah melahirkan secara prematur buku puisi bertajuk “Camar Kecil” dan “Mata Dadu”, Bli Kum melepas buku “Pengkoak” kepada kalayak sastra Indonesia. Buku yang berisi satu prosa pendek dan 61 puisi ini bukti ketuntasan penulis menggali pengalaman mistik-estetik semasa menyinggahi tempat suci di Bali dan Lombok.

Puisi “Pengkoak Kala Hujan” begitu terasa nuansa mistiknya. Pada bait pertama, dimulai dengan larik-larik berikut.

// Papuq Rengkong ... Papuq Rengkong ...! // Segala tuah kau hibahkan batu permata // Sebilah keris kau petik dari gunung // Sabda tiba-tiba muncul di balik gigil Pengkoak //

Bisa dibayangkan, Pengkoak, adalah sebuah tempat yang jauh letaknya dari hutan sesaot di Lombok. Situasinya terpisah dengan alat penerangan dan hiruk pikuk komunikasi gawai modern. Di jantung Pengkoak ada goa kecil yang airnya mengalir tenang tiada pernah habis. Kemarau panjang pun tak kuasa meniadakannya.

Sedalam yang saya alami, kala berada di tengah hutan yang diwarnai dengan semak rumput, ilalang, atau pokok kayu yang membentang sepanjang mata memandang, renung bathin berkata: Yang Mahacipta sungguh ada dan hadir. Lebih lagi jika telinga menangkap kicau burung dan bunyi-bunyian serangga, kesunyian batin memanggilmanggil atas kehadiran-Nya.

Pengkoak, lebih dari itu. Kesunyian alamiah goa beserta aliran air dibalut cerita spiritual tentang seorang pandita yang pernah memeroleh wahyu pawisik. Maka tiada mengherankan, Bli Kum berhasil memotret realita Pengkoak sesuai yang dialaminya dengan nuansa mistik yang diyakininya. Burung, tuah, batu permata, keris, gunung, dan sabda dihadirkan penyair sebagai simbol yang bernuansa mistik.

Selain puisi “Pengkoak Kala Hujan,” puisi lain yang kuat beraroma mistik adalah “Pengkoak Barter Nasib Ketut Kecicang”, “Ngaben”, dan “Kecial Kuning”. Penyair terbukti memiliki nafas spiritual yang memudahkannya dalam menghadirkan puisi-puisi emosi bersatunya penyair dengan Yang Mahabesar.

Kelebihan buku puisi ini tidak hanya pada mistiknya saja. Namun juga pada estetika puisi. Beberapa judul puisi menggunakan pola personifikasi yang utuh. Misalnya. Denpasar Penatmu Melelahkan. Penyair menghidupkan ibu kota Provinsi Bali sebagai insan yang beraktifitas padat. Bahkan ketika bulan datang, diasosiasikan sebagai malam, waktu doa-doa dieja, Denpasar tetap melenggang. Penat!

Demikian halnya dengan puisi berjudul Denpasar Mengenang Silam, Denpasar Kebisuanmu Merambat Pelan, serta Pengkoak Barter Nasib Ketut Kecicang. Melalui gaya personifikasi, penyair berhasil menghadirkan imagi tentang dialog antara manusia dengan alam yang begitu erat relasi batinnya.

Penggunaan istilah dan penamaan berbahasa daerah menambah estetika puisi-puisi Bli Kum. Namun demikian, hal ini menjadikan kesulitan tersendiri bagi pembaca yang bukan orang NTB atau pembaca yang tidak memiliki pengetahuan terkait istilah tersebut. Perlu usaha ekstra untuk mencari tahu guna menyelami samudra kata dalam kumpulan puisi Pengkoak ini.

Meski demikian, bagi penulis puisi, khususnya penulis Kalimantan Barat, buku ini menyajikan alternatif ide dalam penerbitan buku. Sampul yang bergambar lukisan abstraksi dunia mistik, seolah menjadi pintu masuk ke dalam ruang puisi mistik. Suasana kuat sudah tergambar dari depan. Begitu masuk, dari ruang puisi satu hingga ruang puisi terakhir, tersaji puisi yang bernuansa Nusa Tenggara dan Bali. Sebuah wilayah eksplorasi yang dekat dengan sang penyair.

 
Nano Basuki
Pemulia Sastra
LihatTutupKomentar